Minggu, 06 Februari 2011

Ketergantungan

S
eorang teman saya, membenci namanya ketergantungan. Kata tersebut seolah menjadi kata dengan makna negatif di dalamnya. Memang benar kata tersebut erat dikaitkan dengan drugs, alkohol dan hal-hal buruk lainnya, sehingga kata “ketergantungan” menajdi hal yang ditakuti.
Dewasa ini, ada variasi baru dalam ketergantungan, seperti ketergantungan pada sahabat, pada orang tua, bahkan pada pasangan. Tidak ada yang menyatakan bahwa hal tersebut adalah baik. Tentu saja, setiap individu dituntut untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya masing-masing.
Namun yang ingin saya katakan adalah bahwa tidak semua ketergatungan itu buruk. Saya memiliki masalah dengan shabat saya. Masalah ini cukup pelik sehingga saya mengusulkan untuk meminta bantuan pada pihak yang kami anggap dewasa mental dan rohaninya, dan kamipiun bersepakat. Pada konsultasi pertama, kami merasa lebih baik, namun dengan itu pula, kami disarankan untuk melakukan pemulihan secara rutin.
Beberapa hari kemudian, teman saya berkata bahwa dirinya tidak mau ketergantungan konsultasi. Sekilas saya pikir benar juga hal tersebut. Namun di sisi lain, kamipun merasa masih sangat membutuhkan pertolongan, peneguhan, dan bantuan doa. Lalu inilah yang keluar dari mulut saya: “Saya dan kamu adalah dua orang buta. Kita saling menjaga dan mendukung di tiap jalan, namun tidak bisa saling menyeberangkan. Apakah ketergantungan yang buruk apabila orang buta tersebut meminta bantuan orang setiap kli ingin menyeberang? Atau pilihan menyeberang sendiri dengan resiko tertabrak akan jauh lebih baik?”
Saya pikir, tidak perlu tkut atau malu untuk menyadari kelemahan kita dan meminta bantuan pada orang yang tepat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar